Berguru Pada Iblis
Sangat aneh rasanya manusia yang sungguh mulia harus berguru
pada Iblis. Oleh karena itu, bagi Anda yang memegang teguh akidah dan tidak mau
lebih jauh terseret dalam jurang kesesatan, sebaiknya tidak ikut-ikutan beguru
kepada Iblis, dan cepat-cepatlah menutup tulisan ini, apalagi kalo tulisan ini
sampai diketahui oleh guru spiritual Anda.
Bagi saya kewajiban menuntut ilmu dari semenjak lahir hingga
ajal menjemput tidak harus dibatasi oleh ruang-waktu. Begitu juga seharusnya
tidak ada batasan kepada siapa kita harus berguru, asalkan kita dapat memilah
dan memilih mana ilmu yang benar-benar hak dan mana yang bathil. Berguru kepada
ulama jumhur akan menjadi sia-sia jika akhirnya kita harus tersesat akibat
tidak bisa memilah dan memilih mana yang hak dan mana yang bathil tersebut.
Lantas, kenapa kita mesti berguru kepada Iblis? sementara
masih banyak ulama, pendeta, pastor, romo, atau bahkan mungkin teman atau
sahabat sendiri yang ada di sekitar kita yang bisa memberikan pencerahan kepada
kita. Maksud saya disini sebetulnya ingin mengangkat keoriginalan sebuah
kisah/pengetahuan dimana pengetahuan itu bersumber, dan semoga pengetahuan yang
berasal dari sumbernya jika kita pilah dan diambil yang hak-nya akan menjadi ilmu
penuntun, minimalnya untuk diri sendiri.
Jadi, apa sebetulnya yang ingin saya angkat?
Menurut pandangan saya, bahwa ada nilai-nilai luhur dari
membangkangnya Iblis kepada Sang Pencipta, yaitu:
- Iblis mempunyai Iman yang sangat tinggi dan teguh, sehingga Iblis tidak mau sujud kepada selain Sang Penciptanya, dalam hal ini ia tidak mau sujud kepada Adam, yang artinya ia tidak mau menyekutukan Sang Pencipta.
- Dalam menjalankan kehidupannya, Iblis adalah makhluk yang ikhlas dalam beribadah, sehingga ia tidak mengharapkan pamrih dengan tidak mengharapkan Surga.
- Dalam menjalankan kehidupannya, Iblis senantiasa meminta ijin kepada Sang Pencipta, dan atas ijin-Nya itulah, Iblis diberikan mandat oleh Sang Pencipta untuk menggoda anak cucu Adam sampai akhir hayatnya, dan mungkin itulah sebagai bentuk ibadahnya, karena mendapatkan ijin langsung dari Sang Pencipta.
- Iblis adalah model makhluk "sufi" yang sangat tinggi keilmuannya, karena dia salah satu makhluk yang sangat dekat dengan Sang Pencipta, namun tidak ada yang tahu pesis dalam pikiran Iblis kenapa ia membangkang salah satu perintah-Nya, padahal ia tetap sujud kepada Sang Pencipta.
Pandangan saya, bahwa makhluk pokok
yang diciptakan oleh Tuhan adalah Malaikat, Jin dan Manusia. Dari ketiga
makhluk tersebut, saya membagi lagi menjadi dua, yaitu makhluk yang diberi akal
plus hawa nafsu dan yang tidak diberi akal dan hawa nafsu. Makhluk yang diberi
akal dan hawa nafsu adalah Manusia dan Jin, sedangkan makhluk yang tidak diberi
akal dan nafsu adalah Malaikat. Sehubungan Malaikat adalah makhluk yang tidak
diberi akal dan nafsu, maka dia tidak berpotensi untuk membangkang
perintah-Nya. Sementara Makhluk yang diberi akal berpotensi untuk membangkang
perintah-Nya (Jin dan Manusia). Sedangkan Syetan saya kategorikan bukan
makhluk, melainkan sebuah sifat yang dapat berwujud pada diri Jin dan Manusia.
Adapun kaitannya dengan Iblis, saya kategorikan sebagai Jin yang membangkang
Perintah-Nya, sehingga dapat dikategorikan sebagai Syetan.
Sedangkan pada fitrahnya, Iblis itu hanyalah Jin, Jin yang mengemban amanat untuk menyesatkan anak cucu Adam. Kenapa mengemban amanat? karena segala tindak tanduknya telah mendapat Ridho dari Sang Pencipta, sehingga saya Kategorikan pula bahwa Iblis sebetulnya rasul pembawa kesesatan. Sedangkan Iblis sendiri pandangan saya sebetulnya tidaklah sesat. Ini bukan berarti bahwa yang tersesat oleh Iblis bebas dari segala Hisab (pertanggung jawaban). Tinggal kita kembalikan pada Firman yang menyebutkan : "Tidak Kuciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku"
Kenapa saya katakan Iblis tidaklah sesat? karena Iblis tetap beribadah kepada Sang Pencipta, menggoda anak cucu adam atas ijin-Nya, sementara manusia yang tersesat kebanyakan beribadah bukan karena mencari Ridho-Nya, dan banyak diantara manusia menuhankan sesamanya dan sesama makhluk.
Kenapa Lantas Tuhan mewanti-wanti kita untuk menjauhi Iblis? Itu sebetulnya Kasih Sayang Tuhan yang sangat Tinggi untuk makhluk-Nya bernama manusia agar tidak tersesat karena Iblis, dan itu dijadikan dasar bagi Tuhan untuk meminta pertanggung-jawaban manusia, karena manusia telah diperingati oleh Tuhan melalui rasul-rasul-Nya, dan celakalah manusia-manusia yang mengikuti kesesatan Iblis. Sedangkan bagi umat manusia yang berpegang teguh pada ajaran Tuhannya, tentu sedekat apapun dengan Iblis dia tidak akan tersesat, dengan catatan bahwa setiap tindak tanduknya mengharapkan Ridho dari-Nya.
Lantas bagaimana dengan firman Tuhan yang secara tegas mengatakan bahwa Iblis adalah Makhluk terkutuk dan Laknatullah?
Ini pandangan saya :
Sangat ironis manusia yang ikut2an menghakimi Iblis, padahal dia sendiri banyak membangkang terhadap perintah Tuhan, sedangkan Iblis cuman sekali membangkang.
Sangat ironis manusia yang banyak membangkang perintah Tuhan dapat masuk ke dalam surga hanya karena mempunyai iman setitik, sedangkan Iblis sebelum tercipta Adam disebutkan sebagai ahli ibadah dan satu kali membangkang kenapa tak berkesempatan masuk sorga?
Sangat ironis Tuhan Yang Maha Rohman dan Rohim telah memvonis makhluk yang Dia ciptakan untuk masuk neraka, padahal Iblis menyesatkan manusia atas Ijin dari-Nya
Sangat ironis Tuhan Yang Maha Hakim telah memvonis Iblis masuk neraka padahal masih ada pengadilan terakhir tempat semua makhluk mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya dan melakukan pembelaan.
Bisa-kah kita berpikir dan mengambil hikmah positif dari semua itu?
Berpikir... berpikir... berpikir.... Itulah perintah Tuhan dalam beberapa firman-Nya.
Wallahu a'lam bishowab
Sedangkan pada fitrahnya, Iblis itu hanyalah Jin, Jin yang mengemban amanat untuk menyesatkan anak cucu Adam. Kenapa mengemban amanat? karena segala tindak tanduknya telah mendapat Ridho dari Sang Pencipta, sehingga saya Kategorikan pula bahwa Iblis sebetulnya rasul pembawa kesesatan. Sedangkan Iblis sendiri pandangan saya sebetulnya tidaklah sesat. Ini bukan berarti bahwa yang tersesat oleh Iblis bebas dari segala Hisab (pertanggung jawaban). Tinggal kita kembalikan pada Firman yang menyebutkan : "Tidak Kuciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku"
Kenapa saya katakan Iblis tidaklah sesat? karena Iblis tetap beribadah kepada Sang Pencipta, menggoda anak cucu adam atas ijin-Nya, sementara manusia yang tersesat kebanyakan beribadah bukan karena mencari Ridho-Nya, dan banyak diantara manusia menuhankan sesamanya dan sesama makhluk.
Kenapa Lantas Tuhan mewanti-wanti kita untuk menjauhi Iblis? Itu sebetulnya Kasih Sayang Tuhan yang sangat Tinggi untuk makhluk-Nya bernama manusia agar tidak tersesat karena Iblis, dan itu dijadikan dasar bagi Tuhan untuk meminta pertanggung-jawaban manusia, karena manusia telah diperingati oleh Tuhan melalui rasul-rasul-Nya, dan celakalah manusia-manusia yang mengikuti kesesatan Iblis. Sedangkan bagi umat manusia yang berpegang teguh pada ajaran Tuhannya, tentu sedekat apapun dengan Iblis dia tidak akan tersesat, dengan catatan bahwa setiap tindak tanduknya mengharapkan Ridho dari-Nya.
Lantas bagaimana dengan firman Tuhan yang secara tegas mengatakan bahwa Iblis adalah Makhluk terkutuk dan Laknatullah?
Ini pandangan saya :
Sangat ironis manusia yang ikut2an menghakimi Iblis, padahal dia sendiri banyak membangkang terhadap perintah Tuhan, sedangkan Iblis cuman sekali membangkang.
Sangat ironis manusia yang banyak membangkang perintah Tuhan dapat masuk ke dalam surga hanya karena mempunyai iman setitik, sedangkan Iblis sebelum tercipta Adam disebutkan sebagai ahli ibadah dan satu kali membangkang kenapa tak berkesempatan masuk sorga?
Sangat ironis Tuhan Yang Maha Rohman dan Rohim telah memvonis makhluk yang Dia ciptakan untuk masuk neraka, padahal Iblis menyesatkan manusia atas Ijin dari-Nya
Sangat ironis Tuhan Yang Maha Hakim telah memvonis Iblis masuk neraka padahal masih ada pengadilan terakhir tempat semua makhluk mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya dan melakukan pembelaan.
Bisa-kah kita berpikir dan mengambil hikmah positif dari semua itu?
Berpikir... berpikir... berpikir.... Itulah perintah Tuhan dalam beberapa firman-Nya.
Wallahu a'lam bishowab
Tak Ada Pengusiran Adam dari Surga
Ketahuilah wahai saudarku! Adam tak pernah diusir dari
Surga, melainkan ia menerima “Perintah” Allah untuk menghuni bumi ini, ingat,
“PERINTAH” bukan “DIUSIR”. Kalimat “pengusiran” saya pikir tidak tepat untuk
Adam yang telah dipersiapkan dari awal untuk dijadikan kholifah di muka bumi
ini.
“…..Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi……” (Al-Baqarah : 30)
dan setelah proses penciptaan adam selesai, maka turunlah
perintah itu :
“Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang
petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya
tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Al-Baqarah : 38)
Kesalahan adam yang memakan buah yang dilarang oleh Allah
tidak bisa dijadikan dasar “Pengusiran”, karena sebelum ayat yang ke-38
tersebut turun, terlebih dulu turun ayat ke-37 tentang pengampunan Adam yang
memakan buah yang dilarang Allah.
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka
Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (Al-Baqarah 37)
Jadi pandangan saya sejauh ini; berdasarkan skenario yang
tersirat dalam surat Al-Baqoroh Ayat 30-38,
sekalipun Adam tidak memakan buah “Khuldi”, Allah akan tetap menurunkan Adam ke
muka bumi sebagai kholifah sesuai dengan rencana-Nya di surat Al-Baqoroh ayat ke-30.
Wallahu a’lam bishowab
Surga Itu Mitos
Bagi Anda yang masih waras, dilarang keras membaca tulisan
ini, dan disarankan untuk tetap mengkaji kitab-kitab kuning karya ulama-ulama besar
dan jumhur supaya Anda tidak ikut tersesat.
Bagi saya, Surga adalah sebuah cerita khayalan dari negeri
dongeng, dan keberadaannya tidak patut untuk dipercaya, kenapa? karena memang
tidak wajib untuk dipercayai bahkan diimani keberadaannya. Apa dasarnya tidak
wajib untuk diimani? Silahkan Anda kaji apa yang seharusnya wajib untuk diimani
dalam Rukun Iman! Jika benar bahwa Surga itu wajib untuk diimani, seharusnya
tercantum secara spesifik dalam Rukun Iman, dan karenanya Rukun Iman haruslah
berjumlah 7 (tujuh).
Oke, memang Surga tidak tercantum dalam Rukun Iman, tapi kan disebutkan dalam
berbagai Ayat dalam Al-Qur'an? dan kedudukan Al-Qur'an sudah tidak diragukan
lagi kebenarannya, dan merupakan sumber hukum tertinggi bagi Umat Islam?
Bagaimana saya menanggapinya? Tanggapan saya, bahwa berbagai ayat dalam
Al-Qur'an yang menerangkan keberadaan Surga adalah ayat tipu muslihat, ayat
tersebut ditujukan untuk menguji keimanan seseorang dalam beribadah, apakah
ibadahnya mengharapkan Surga, atau benar2 ikhlas beribadah hanya karena Allah
Swt.
Anda tentu masih ingat kisah Adam yang tergoda memakan buah
khuldi akibat ada hasrat untuk kekal selamanya disurga? Dan ternyata apa yang
terjadi setelahnya ia memakan buah khuldi? kekalkah ia di surga? faktanya ia
malah terusir di tanah kelahirannya.
Wah... berarti kita bisa bebas dong untuk tidak beribadah?
karena ngapain beribadah, toh surga itu tidak ada? hmm.... Sekarang, silahkan
Anda bertanya pada diri Anda sendiri, apakah motivasi ibadah Anda masih tetap
mengharapkan Surga? kalau Surga itu benar tidak ada, apakah Anda semua akan
berhenti beribadah memuji Kebesaran-Nya? Dimanakah letak keihklasan Anda dalam
beribadah?
Khusus Bagi saya, ada surga ataupun tidak, saya akan tetap
terus berusaha untuk ikhlas beribadah kepada Sang Pencipta tanpa mengharapkan
ganjaran/pahala Surga, dan saya tetap akan mengimani Rukun Iman dan tetap
beriman kepada Hari Akhir meskipun Surga tidak wajib untuk diimani.
Wallahu a'lam bishowab
Ayat yang Memungkinkan Penjelajahan Ruang-Waktu
Pernahkah anda bermimpi atau membayangkan dapat kembali ke
masa lalu? atau dapat menyaksikan zaman hewan-hewan raksasa yang buas yang
dikenal dengan sebutan Dinosaurus layaknya dalam film-film fiksi ilmiah yang
dapat kita saksikan di layar lebar atau layar televisi? Pernahkah anda
membayangkan bahwa semua cerita tersebut bisa terwujud? Atau anda hanya
membayangkannya sebagai dongeng pengantar tidur? Semua memang masih merupakan
perdebatan, jangankan di kalangan awam, bahwa di kalangan ahlinya sendiri-pun
hal tersebut masih berupa wacana atau konsep yang memang belum seorang pun yang
dapat membuktikan konsep atau teorinya tentang penjelajahan ruang-waktu.
Terlepas hal di atas masih berupa perdebatan atau bukan,
saya ingin menunjukkan kepada anda ayat-ayat yang memungkinkan penjelajahan
ruang-waktu berdasarkan penelaahan keawaman saya tentang tafsir-tafsir ayat
Illahi.
Kemungkinan yang pertama, manusia bisa menembus
ruang-waktu dengan kecepatan cahaya. Artinya, bahwa manusia harus menjadi
cahaya itu sendiri, yang berarti pula manusia harus meluruh menjadi energi dan
gelombang cahaya. Sehubungan dengan kondisi tersebut, diberlakukan syarat lain agar
manusia dapat menjadi wujud sediakala ketika telah meluruh menjadi
energi/gelombang cahaya yaitu dengan diseliputinya manusia dengan zat khusus,
super khusus yang disebut telah diberkahi oleh Allah, hal ini dikabarkan dalam
Surat Al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Aal-Isra : 1
Kemungkinan yang kedua, manusia bisa menembus ruang-waktu dengan cara menekuk lembaran waktu yang terhampar dan melengkung akibat dipengaruhi oleh gaya gravitasi benda langit. Hal ini dikabarkan dalam surat Al-Kahfi ayat 1
"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong
dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke
sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu
adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang
disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya". Al-Kahfi : 17
Kemungkinan yang ketiga, manusia bisa menembus
ruang-waktu dengan cara memanfaatkan pasangan kontinuum ruang-waktu yang terus
bergerak maju, artinya manusia harus menemukan kontinuum ruang waktu yang terus
bergerak mundur. Hal ini dikabarkan dalam surat
Yasin ayat 36 :
“Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasangan-pasangan,
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa
yang tidak mereka ketahui”. Qs. Yaa Siin : 36.
Sepertinya tidak mungkin?
Wallahu a'lam bishowab
Menangkap Jibril
Pada tulisan ini saya ingin mencoba menangkap Jibril dan mempersembahkannya
untuk anda. Namun, sebelum saya dapat menangkap Jibril, ada baiknya kita
identifikasi dulu supaya tidak salah nangkap (ayo minta dulu fotonya ke
Interpol) heheh...
Dengan tidak bermaksud mengesampingkan ajaran dari agama ataupun keyakinan lainnya, untuk dapat mengidentifikasi Jibril, saya akan memakai metode identifikasi pada saat diterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad dari Allah Swt. Dikisahkan, bahwa ketika pertama kali Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira, keadaan Beliau saat pulang ke rumah dalam keadaan menggigil seperti ketakutan, dan seluruh tubuhnya merasa bergetar sehingga meminta keluarganya untuk menyelimuti dirinya hingga bergetarnya hilang. Di lain kisah disebutkan bahwa ketika menerima wahyu, beliau seperti mendengar bunyi lonceng yang sangat tinggi hingga tubuh Beliau merasa bergetar. Ya, bergetar setiap kali beliau menerima wahyu. Lantas, apa yang menyebabkan Beliau bergetar? sementara di saat wahyu pertama diturunkan, beliau tidak pernah melihat sosok Jibril.
Untuk melengkapi identifikasi, bahwa Jibril adalah malaikat, sehingga tentunya Jibril terbuat dari cahaya, karena disebutkan bahwa malaikat terbuat dari cahaya. Meskipun terbuat dari cahaya, tentu kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa malaikat adalah cahaya, tapi setidaknya kita bisa memulai dari mengidentifikasi cahaya. Menurut Wikipedia, bahwa Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm.[1] Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak.
Kita ambil simpelnya aja, bahwa cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnet. apa itu gelombang elektromagnet? Gelombang elektromagnet adalah gelombang yang dapat merambat meskipun tanpa melalui medium, dan kecepatannya adalah merupakan kecepatan cahaya. Gelombang elektromagnet terdiri atas beberapa jenis gelombang, yakni : gelombang radio, gelombang televisi, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar ultraviolet, sinar x, sinar gamma.
Terus, bagaimana kita bisa mengubungkannya dengan cerita diterimanya wahyu oleh Muhammad?
Menurut pandangan saya, sangat jelas dan nampak, bahwa konsep diterimanya wahyu oleh Rasulullah adalah dengan menangkap getaran (gelombang elektromagnet) sebagai akibat adanya suatu Zat yang memancarkan gelombang tersebut. Dalam hal ini, kalau dikaji secara ilmu fisika, bahwa Muhammad sebetulnya sedang bertindak sebagai penerima gelombang (receiver/radio) dan yang menyiarkan gelombang tersebut adalah Dia yang Maha Pemilik Gelombang yang sedang bertindak sebagai Sesuatu yang memancarkan gelombang (transmitter/stasiun radio). Lantas, siapakah Jibril? pandangan saya, bahwa Jibril tidak lain dan tidak bukan adalah gelombang elektromagnet itu sendiri.
Oh... apakah dengan begitu apakah saya akan mengatakan bahwa untuk menangkap Jibril adalah dengan menyetel radio begitu? Saya tidak akan menyebutkan seperti itu, karena gelombang elektromagnet tidak harus ditangkap oleh radio, dan saya sendiri tidak tahu persis termasuk jenis gelombang elektromagnet manakah Jibril itu, apakah gelombang radio, televisi, inframerah, atau lainnya? karena semua gelombang hampir bisa dijadikan sarana untuk mengirimkan paket-paket data/informasi. (ingat teknologi infra merah pada HP?).
Yang ingin saya tekankan di sini, bukan menangkap gelombang-gelombang tersebut dengan alat-alat fisika, namun saya ingin tekankan bahwa tangkaplah gelombang tersebut dengan jiwa, ya, jiwa yang merasakan getaran akibat menyatunya frekwensi jiwa kita yang lemah dengan frekwensi Dia Yang Maha Pemilik Frekwensi. Karena syarat untuk dapat diterimanya gelombang tersebut oleh radio adalah dengan sama persisnya antara frekwensi penerima dan pemancar. Sedekat apapun stasiun radio/televisi di rumah kita, maka tidak akan tertangkap siarannya jika kita tidak memiliki radio/televisi dan mengetahui frekwensi gelombangnya. Begitupun jiwa kita, walau dikatakan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat lehermu, tidak akan pernah kita rasakan kehadiran-Nya jika kita tidak berusaha menangkap dan mengetahui frekwensi sejati-Nya.
Wallahu a'lam bishowab
Orang Paling Beriman adalah Orang Paling Dungu
Sering saya bertanya, sebetulnya mana yang harus didahulukan, iman atau yakin?
Dan manakah diantara keduanya yang mempunyai derajat yang lebih tinggi? Atau
memang keduanya sama hanya berbeda secara istilah? pertanyaan ini saya lempar
kepada orang2 yang notabene mempunyai kapasitas, namun jawaban yang saya dapat
hanyalah jawaban relative dan mengandung makna dualitas, karena di satu sisi
mereka mengatakan lebih tinggi iman, dan di sisi lain mereka mengatakan lebih
tinggi yakin.
Yang berpendapat lebih tinggi iman berargumen bahwa kita
harus beriman sesuai dengan perintah agama, karena segala sesuatu sudah
ditetapkan oleh Sang Pencipta, dan kalau kita tidak beriman maka Tuhan akan
menimpakan adzab terhadap kita, dengan kata lain iman adalah harga mati.
Sementara yang berargumen lebih tinggi yakin (haqul yakin) berargumen bahwa
yakin lebih tinggi tingkatannya karena dengan yakin berarti kita telah
menyaksikan secara langsung sesuatu yang kita imani, dan tidak bisa diragukan
lagi keberadaan/kedudukan sesuatu yang kita imani terebut.
Saya belum bisa mengambil kesimpulan atas adanya dualisme
pendapat tersebut, hingga akhirnya saya bertanya pada alam. Apa sebetulnya iman
dan apa fungsinya? Namun sebelum saya mendapat jawaban, saya dibenturkan lagi
pada penyataan bahwa manusia lebih mulia dan paling sempurna daripada makhluk
lainnya, dan yang membedakan kemuliaan dan kesempurnaannya adalah dengan
dianugerahinya akal oleh Tuhan pada manusia. Lantas apa fungsi akal? Apakah
untuk lebih mempertebal rasa keimanan? atau sebaliknya? kalau akal adalah alat
untuk mempertebal keimanan, bukankah dengan akal manusia banyak yang ingkar terhadap
Tuhan-nya dan malah menuhankan akal? Bukankah seharusnya Tuhan tidak usah
memberikan akal kepada manusia agar manusia semuanya menjadi patuh dan taat
terhadap-Nya? Layaknya hewan, layaknya tumbuhan, layaknya benda langit,
layaknya malaikat yang senantiasa patuh dan taat pada perintahnya karena tidak
diberikan akal.
Dan ah... ternyata... alam memberikan jawabannya, jika
begitu untuk beriman ternyata tidak perlu akal, dan itu berarti orang yang
beriman adalah termasuk makhluk-makhluk yang dungu layaknya hewan, layaknya
tumbuhan, dan malaikat sekalipun, karena mereka melaksanakan perintah-Nya tanpa
pernah membantah sedikitpun.
Tapi tunggu dulu... kita kan dianugerahi akal? akal untuk berpikir.
Jika untuk beriman tidak diperlukan akal, berarti sia-sia dong Tuhan memberikan
akal kepada manusia? padahal Tuhan melalui ayat-ayatnya memerintahkan kepada
manusia untuk berpikir... berpikir... dan berpikir... ya... karena ada istilah
“Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.”Lantas gimana dong korelasinya?
Oke langsung saja saya pada intinya daripada terus-terusan
mengajak anda muter-muter. Orang yang paling beriman adalah orang paling dungu,
karena untuk beriman tidak diperlukan akal. Namun saya mengkategorikan menjadi
dua istilah dungu dimaksud.
- Orang beriman yang dungu dan benar-benar dungu karena tidak pernah mau menggunakan akal dan pikirannya untuk mencerna tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.
- Orang beriman yang dungu di hadapan Sang Pencipta karena ia gunakan akal dan pikirannya untuk mencerna tanda-tanda kebesaran-Nya dan menemukan Tuhannya yang sejati dalam dirinya (haqul yaqin), sehingga setelah itu ia tanggalkan akalnya dalam menerima kebenaran dalam ajaran-ajaran dari Tuhan-nya karena ia menemukan ketidak berdayaannya di hadapan Sang Pencipta.
Terdapat pada golongan manakah iman kita?
Wallahu a'lam bishowab
Wallahu a'lam bishowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar