Caramu mencintaiku
Suasana ruang IPM terlihat begitu tegang. Sepertinya, diruangan itu terdapat bom yang siap meledak.
“Aku sudah tak sanggup lagi.” Ucap Sarah pada Malik. Disana hanya ada mereka berdua dan Lala.
“So, kamu mau apa? Mau keluar dari IPM?” Tanya Malik angkuh.
Sarah tidak menanggapi pertanyaan Malik “Aku kira, kamu bisa jadi partner kerja yang baik. Ternyata aku salah!” Sarah mulai mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terpendam.
“Halah! Justru kamu itu yang gak bisa jadi partner kerja yang baik. Jadi Ketua Umum aja gak bisa bertanggungjawab, lha koq, sok-sok-an mau ngatur – ngatur aku.” Jawab Malik sengit. Kalimatnya kacau. Namun kalimat itu malah menghujam tepat dihati Sarah.
“Aku? Gak bertanggungjawab? Buktinya apa? Jangan asal ngomong donk!” balas Sarah tak kalah sengit.
“Oke! Perlu bukti? Masalah Fortasi yang mengurusi hanya aku. Perkemahan. Perpisahan kelas 3. Dan bla…bla…bla…” Malik menyebutkan semua Proker yang telah dijalankan. Jika kau tau apa saja proker IPM, sebutkan! Maka Malik akan mengatakan aku yang banyak membantu dalam kegiatan itu.
“Lalu kamu kemana? Bukankah itu berarti kamu gak bertanggungjawab? Hah, coba kalau tidak ada aku. Pasti banyak program kerja yang tidak berjalan.” Lanjut Malik sombong.
Mendengar hal itu, hati Sarah panas. Jika kemarin – kemarin dia masih bisa sabar menghadapi tingkah Malik. Tapi, kali ini tidak. Dia benar – benar tersinggung. Merasa sangat tak dihargai.
“Itu karena kamu gak pernah melibatkan aku. Kamu selalu mengambil keputusan sendiri, selama ini, akupun hanya diam saja. Mencoba berpikir positif bahwa apa yang kamu lakukan adalah yang terbaik untuk IPM.
Tapi, sekarang kamu malah berkata seperti itu. Hah… dimana perasaanmu Malik? Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk IPM. Bahkan nilai – nilai pelajaranku banyak yang turun.”
“Jadi, kamu menyalahkan IPM?” sela Malik sinis
“Tidak! Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Semua memang salahku. Karena aku belum bisa membagi waktu dengan baik.
“Aku sering pulang sore. Dan sampai rumah dimarahi orangtuaku. Bukan hanya itu, aku bahkan sempat dilarang mengikuti IPM lagi. Tapi, aku masih berusaha bertahan. Karena aku masih punya amanah yang harus aku tunaikan. Dan kamu masih bisa bilang aku gak bertanggung jawab?” Lanjut Sarah, hatinya bergemuruh.
“Hebat…! Hebat…! Sang ketua kita.” Ejek Malik “Hallo? Kamu pikir yang seperti itu hanya kamu? Aku juga sama. Tapi aku gak pamer sama orang – orang, meskipun aku banyak berjasa buat IPM.”
Hati Sarah benar – benar sakit. “Malik! Kamu pikir dengan menyebut semua proker yang dijalankan sebagai hasil usaha kamu saja, bukan Pamer?” Tanya sarah membalik perkataan Malik.“Sebenarnya kamu ada masalah apa tho dengan aku?” Lanjut Sarah. Sementara Malik hanya terdiam, diapun tidak mengerti mengapa sampai hati memarahi Sarah. Saat Malik sedang mencari – cari alasan untuk membenarkan tindakannya. Sarah mulai menumpahkan isi hatinya lagi.
“Kamu sebagai Kabid Perkaderan sudah kuberi kebebasan untuk menjalankan tugasmu. Tapi, kamu malah otoriter. Tidak pernah melibatkan aku. Terus, kalo ada masalah, yang kena siapa? Aku kan? Padahal aku tidak tau apa – apa.” Ucap Sarah, kali ini matanya berkaca – kaca. Mencoba menahan air duka.
“Aku tau, kamu lebih senior, lebih mengerti apa yang harus dilakukan. Aku tidak gila hormat koq. Dan tidak juga minta pujian. Paling tidak, jika kamu tidak mau menganggap aku sebagai Ketum IPM. Anggap aku sebagai manusia.
Terkadang aku merasa tak berguna ada disini. Tak pernah dianggap. Kalian membutuhkan aku, hanya ketika kalian butuh tandatanganku untuk pencairan dana saja.” Sarah terdiam, sepertinya bom diruangan ini telah meledak seiring dengan jatuhnya air mata Sarah. Hati sarah terasa diiris – iris. Gerimis menyelimuti hatinya. “Apa ini yang disebut organisasi?” Tanya Sarah.
“O, jadi selama ini, kamu merasa aku tidak menghargaimu? Justru kamu itu yang tidak menghargaiku. Kamu memang Ketum. Tapi, saat ini masih kegiatan Fortasi. Aku yang berwenang disini. Aku memintamu untuk menjaga ruang sekretariat. Eh, kamu malah pergi tanpa izin dariku. Seharusnya kamu mengikuti aturanku donk! Kalo kamu ingin dihargai, hargai dulu orang lain.” Malik membela diri, wajahnya merah padam.
Sarah semakin terisak. Hatinya porak poranda. Seolah badai tengah melanda hatinya. Dia hanya mampu terdiam. Ruangan itu hening sesaat. Akhirnya, hati Malik luruh juga melihat Sarah menangis. Memang, senjata wanita adalah menangis. Tapi, itu bukan menunjukkan kelemahannya melainkan betapa lembutnya hati seorang wanita.
“Oke… aku minta maaf.” Ucap Malik, akhirnya. Sementara Sarah hanya terdiam. Tidak mengangguk. Tidak juga menggeleng. Malik kebingungan, dia tidak tau harus berkata apa. Sepertinya dia telah kehabisan kata – kata. Ruangan itu, hening kembali. Yang terdengar hanya suara isakan tangis Sarah.
Lala yang sedari tadi berdiam diri didepan komputer mulai merasa risih dengan keadaan ini. Akhirnya, dia mulai angkat bicara.
“Sudahlah Sarah, jangan bersedih lagi. Kan enggak enak kalo sampe orang – orang tau. Apalagi, murid baru. Ntar kamu kehilangan wibawa lho.”
“La, aku juga manusia. Punya perasaan. Masa’ gak boleh nangis? Aku capek dengan semua ini.” Jawab Sarah. “Sudah lama kusimpan air mataku dan semua keluh kesahku. Dan kini, aku sudah tak sanggup lagi memendamnya.”
“Kenapa Kamu gak bilang dari dulu?”
“Karena aku gak mau semangat teman – teman jadi turun, hanya karena aku. Aku ingin IPM lebih kompak lagi.” Jawab Sarah. Lalapun ikut terdiam, dia juga kehabisan kata – kata. Sarah masih menangis. Akhirnya, Lala dan Malik meninggalkan Sarah seorang diri di ruang IPM. Mungkin, Sarah sedang ingin sendiri, pikir mereka.
Sesaat setelah mereka pergi. Sarah mencoba menenangkan diri. Dihapusnya air duka itu, lalu mencoba tersenyum dan berkata pada dirinya sendiri, “Ayolah Sarah, kamu harus kuat. Bukankah disetiap do’a, kau meminta pada Allah supaya diberi Kekuatan,” sementara hati besar dan hati kecil Sarah berperang.
“Tapi, Allah tidak memberikan apa yang aku minta,” suara hati besar.
“Itu memang bukan bentuk aslinya. Allah tidak memberikan apa yang aku minta. Tapi, memberikan apa yang aku butuhkan.” Jawab hati kecil.
“Lalu, aku sekarang butuh kekuatan. Mengapa Allah tidak memberikannya?” Tanya hati besar.
“Ketahuilah, kekuatan itu tidak diberikan,aku yang harus meraihnya.” Hati kecil berkata lagi.
Perang selesai dan dimenangkan hati kecil Sarah. Bibirnya tersenyum. Tapi, matanya tetap melelehkan air mata. Dihapusnya lagi air duka itu. Sekali lagi, dia mencoba tersenyum. Lalu dia keluar ruang IPM menuju kamar mandi.
“Sarah, mau kemana?” Tanya Lala
“Ke kamar mandi.” Jawabnya seraya tersenyum. Seolah tak pernah terjadi apa – apa. Dia tidak ingin semua orang tau keadaannya dan membuat mereka mengasihaninya.
Namun, belum sampai kamar mandi. Mendadak tubuh Sarah ambruk. Matanya berkunang – kunang. Dadanya sesak. Kepalanya pusing. Sepertinya, penyakit Sarah kambuh lagi. Akhirnya, dia diantarkan pulang oleh Lala.
dcdcdc
Sore hari dirumah Sarah…
“Gimana keadaan mbak Sarah?” Tanya Lina, adik kelasnya yang juga pengurus IPM.
“Alhamdulillah, Udah mendingan, dik.” Jawab Sarah
“Mbak, aku denger, tadi mbak sempet ada masalah sama Mas Malik, ada apa?
“Enggak… siapa bilang, gak ada apa – apa koq.” Kata Sarah berbohong. Lina menatap mata Sarah beberapa detik mencoba mencari – cari sinar kejujuran dari situ. Ya, seperti kata orang bijak, ‘Mata tidak bisa bohong’.
“Oke… kamu bener. Mbak tadi emang ada masalah sama Malik.” Ucap Sarah, akhirnya menyerah dan mulai bercerita tentang masalah itu.
“Jadi begitu dik, hati mbak rasanya hancur sekali.” Sarah mengakhiri ceritanya.
Lina menarik nafas dalam – dalam, “Hmm… aku mencoba mengerti apa yang kalian rasakan. Tapi, kalau aku harus memilih. Aku tidak akan memilih. Karena, buat aku, kalian berdua adalah teman seperjuangan di IPM.”Terdiam sebentar.“Aku juga tidak akan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.” Lanjutnya.
“Jadi, mbak harus diam saja diperlakukan seperti ini?”
“Bukan mbak, mbak itu harus bertindak yaitu dengan cara mengalah.”
“Mbak sudah puas dik! Selama ini mbak Mengalah terus. Tapi, apa yang mbak dapat? Hanya sakit hati dan kekecewaan.”
“Mengalah bukan berarti kalah mbak! Lagipula, jika kalian berdua sama – sama egois. Gak akan selesai. Mau jadi apa IPM ini?” Sarah terdiam. Dia membenarkan dalam hati, apa yang dikatakan Lina.
“Jadi, gimana mbak? Mengalah untuk menang, demi IPM.” Kata Lina
“Masa’ seorang mbak Sarah yang katanya Ketum IPM, patah semangat hanya karena masalah ini?” lanjut Lina mencoba memprovokasi Sarah.
“Hmm… Oke deh, akan aku coba. Demi IPM” jawab Sarah, akhirnya.
dcdcdc
“Mana Malik?” Sarah bertanya pada Lala.
“Belum datang. Oh ya, gimana keadaanmu?”
“Alhamdulillah sudah mendingan.” Ucap Sarah. Tiba – tiba pintu ruang IPM terbuka, dari balik pintu muncul Malik. Tanpa salam. Tanpa sepatah katapun yang terucap darinya. Dia langsung menuju pojok ruangan. Sepertinya, dia masih marah dengan kejadian kemarin.
Pasti Malik marah, karena kemarin dia udah minta maaf padaku. Tapi, aku malah mengabaikannya. Begitu pikir Sarah.
“Sarah, aku pamit ke kantin dulu ya. Belum sarapan nih.” Kata Lala, akupun mengangguk.
Malik duduk dikursi. Terdiam dan hanyut dalam lamunan. Tatapannya kosong. Sepertinya, dia sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya, dia bangkit dan menghampiri Sarah yang sedang memeriksa Program Kerja IPM.
Tanpa berkata – kata. Malik menyodorkan sebuah amplop putih. Sarah tertegun. Dengan penuh tanda Tanya, Sarah menerima amplop itu.
“Apa ini?”
“Surat Pengunduran diriku.”
“Kenapa? Kamu masih marah karena masalah kemarin? Oke, aku minta maaf”
Malik menggeleng “Bukan. Bukan karena itu.”
“Lalu apa?” Sarah benar – benar ingin tau.
“Karena aku merasa sudah tak berguna lagi disini. Jadi, lebih baik aku keluar saja.”
“Siapa bilang? Kami semua membutuhkanmu. Tolong dipertimbangkan lagi.”
“Tidak usah membujukku. Keputusanku sudah bulat.”
Sarah menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan. “Ya sudah, jika itu memang keputusanmu. Tapi, jika nanti kamu berubah pikiran, Pintu ini masih terbuka lebar untukmu.”
“Iya, makasih.” Jawab Malik dingin dan hendak pergi dari ruangan itu.
“Malik…” panggil Sarah. Malik menoleh.
”Kalo aku boleh tau, sebenarnya apa alasan kamu keluar dari IPM?” Tanya Sarah.
“Kamu…” jawab Malik singkat.
“Maksudmu?” Sarah semakin tak mengerti.
“Karena aku tak ingin melihat orang yang kucintai menangis lagi. Apalagi, aku yang telah menyakiti hatinya.” Setelah berkata – kata, Malik kemudian pergi.
“Apa?” ucap Sarah lirih, dia tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Malik. Sarah tau, bahwa Malik bukan tipe cowok yang suka nge-gombal sana – sini. Mungkinkah kali ini Malik sungguhan mencintai Sarah.
“pasti ini hanya mimpi.” Sarah mencubit lengannya. Sakit. Sarah tidak mimpi.
Sarah lemas. Hatinya kacau. Sarah menjerit dalam hati. Tidak mungkin Malik mencintaiku!!
Malik, jika engkau cinta. Mengapa kau malah melukai perasaanku?
Sungguh aneh, caramu mencintaiku…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar