MANIS
DIDENGAR,PAHIT DI RASA
♥بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم♥
Harapan yang diberikan kadang memang lebih besar
daripada apa yang mampu dijalani, apalagi bila kekasih hati pujaan jiwa yang
memberikan. Atas nama cinta, seribu tahun pun mau menanti asal bisa dimiliki
sang kekasih.
Tapi
apakah memang benar dia pantas untuk kau nantikan ukhti..
Apakah
iya yang di beri harapan atau janji manis itu hanya kau seorang? Bagaiman jika
ternyata ada puluhan wanita yang terjerat ucapan janji indah dan mempunyai
harapan yang sama seperti dirimu,menanti dirinya yang mempunyai perkataan manis
namun belum tentu manis dalam kenyataannya.
Pernahkah
ukhti mendapat sebuah SmS dengan nada mesra dan memberikan janji
“ mas
ingin selalu bersama adek,mas gak mau kehilangan adek”
Percayakah ukhti dengan itu? Bagaimana jika
nanti dia yang dengan tiba-tiba menginggalkan ukhti dan memberikan sebuah SmS
yang sama ke ukhti-ukhti lainnya.
Hai akhi,tau kah engkau
bahwa perasaan wanita itu begitu halus,sedikit saja tergoreskan pasti akan
terasa begitu sakit.Wanita diciptakan dari tulang rusukmu bukan dari tulang
ubun-ubun maka dari itu engkau wajib menjaga dan menyayanginya dengan tulus
bukan dengan cara coba-coba mengumbar janji yang manis saat di dengar tapi
pahit jika dibuktikan.
Akhi, bukan kami tak mau dengar tiap kata yang merasuk dalam qalbu kami, kami hanya tak sanggup untuk mendengar tiap kali kau unggkapkan kata pemanis hati.
Tapi, tahu kah kau? kami bukanlah wanita yang hanya ingin diperdengarkan kata manis, bukan pula yang diberikan rasa pesakitan yang kau buaikan dalam janji-janjimu. Maka akhi, simpan janjimu.
Akhi,kami memang bukanlah wanita bak aisyah yang pantas diberi sekuntum mawar dengan segala keharumannya. Kami pun tak pantas bila kau puja puji agar hati kami bagaikan air yang tak pernah tenang.
Tapi, kami sadari janjimu adalah keriangan bagi kami,
pelangi hati kami, yang membuat kami yakin bahwa kau akan menggenggam dunia untukkami.
Namun kadang kami pedih, saat tanpa kau sadari bahwa janji-janjimu itu seakan hanya ingin membuai untuk mengajak kami pada kepalsuan syetan.
Tapi,
tak kamipungkiri bila kami bahagia saat kau ungkapkan janjimu yang menggores
sebagian hatiku. Bahkan kami
pun tak tahu sampai kapan janjimu akan terus kau hadirkan padakami sebelum akhirnya kau tunaikan. Kami hanya takut kau pergi sebelum
tertunaikan.
Ketika memang terjadi kau pergi
meninggalkan janji yang belum sempat kau tunaikan,bagi Sebagian wanita mungkin
sudah terbiasa dengan janji-janji sehingga mereka sudah tidak peduli lagi
dengan janji. Sedangkan sebagian wanita yang lain mungkin akan menangis
bahkan tidak dapat melupakan janji yang terlalu manis yang terlanjur merekat di
hati.
Tidak
kah kau takut akan diminta pembuktian dari janji itu di kemudian hari? Sudahkah
kau hitung berapa banyak janji yang sudah kau tebarkan,dan belum kau buktikan
atau laksanakan.
Untukmu serta untuk ku kaum
wanita “jangan mudah percaya dengan janji dalam hubungan yang biasa disebut
ta’aruf,jangan lupa bahwa ta’aruf sering dijadikan ajang para ikhwan untuk
menjerat mangsanya.Maka, perlunya segera disadari bahwa menjaga hati dari
hal-hal berbau janji yang tidak pasti, kalau pun janji itu benar adanya maka janji
itu tak akan terucap pada para muslimah namun akan terucap pada orangtua
mereka.”
Jangan terlalu bersedih.Biarkan mereka pergi membawa janji-janji nya. Tapi
kita kudu yakin bahwa itu pilihan terbaik. Karena lebih baik kita berada dalam kasih
sayang Allah daripada kita harus berada dalam kasih sayang manusia yang
diharamkan.
“Katakanlah: Hai hamba – hambaku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa–dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang”. ( QS. Az Zumar).”Ukhti? Percayalah Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya janji yang dia ucapkan tapi,di lihat dari seberapa konsistenkah dia dalam membuktikan janji-janji yang dia ucap sendiri.
Ikhwan sejati bukan dilihat dari bahunya yang kekar, Tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, Tetapi dari kelembutan mengatakan kebenaran
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja, Tetapi bagaiman dia dihormati di dalam rumah
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, Tetapi dari hati yang ada di balik itu
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, Tetapi dari komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, Tetapi dari tabahnya dia menjalani lika liku kehidupan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya dia membaca Qur’an, Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca.
Inna al-Nisa’a
rayyahinu khuliqna lakum wa kullukum yashtahi syamma al-rayyahin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar